Ijarah: Pengertian, Landasan Hukum dan Syaratnya

Ijarah: Pengertian, Landasan Hukum dan Syaratnya

Ijarah: Pengertian, Landasan Hukum dan Syaratnya

Ilustrasi ekonomi syariah. (IDN Times/Helmi Shemi)

Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan ijarah?

Bagi kamu yang merasa istilah ini sekilas terdengar seperti kata dalam bahasa Arab, kamu tidak salah. Yup, Ijarah berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah imbalan atau upah sewa atau jasa. Pada umumnya, istilah “ijarah” digunakan dalam perbankan syariah.

Transaksi dengan akad ijarah diatur dalam Fatwa MUI tentang Pembiayaan Ijarah Nomor 09/DSN-MUI/VI/2000. Oleh sebab itu, pembiayaan dengan akad ijarah diatur sesuai syariat Islam.

Untuk mengetahui apa itu ijarah secara detail dan lengkap, mari simak penjelasannya di bawah ini.

1. Mengenal ijarah

Ijarah: Pengertian, Landasan Hukum dan Syaratnya

Ilustrasi muslim (Pexels.com/Thirdman)

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan bahwa ijarah adalah perjanjian (kontrak) dalam hal upah-mengupah dan sewa-menyewa.

Sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK)mendefinisikan ijarah sebagai transaksi sewa menyewa atas suatu barang dan atau upah mengupah atas suatu jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa atau imbalan jasa.

Dalam perbankan, secara makna dan konteksnya ijarah adalah pemindahan hak guna suatu barang dengan pembayaran biaya sewa tanpa diikuti pemindahan kepemilikan atas barang tersebut. Jadi, secara singkat ijarah berarti menyewa suatu tanpa maksud memilikinya.

Nasabah yang berperan sebagai penyewa dengan objek yang akan disewakan dan bank adalah pihak yang menyewakan.

Transaksi ijarah ini sendiri juga berdasarkan hasil kesepakatan kedua belah pihak, baik proses maupun Imbalannya. Selain itu, tujuan dari penyewaan barang atau aset tersebut haruslah jelas dan telah diketahui sebelumnya.

Akad ijarah berfokus kepada manfaat barang dan tidak boleh dilakukan atas suatu benda. Misalkan saja apabila ada seekor sapi yang diijarahkan untuk diambil susunya, karena susu dapat menjadi benda yang dapat diperjual-belikan maka hal ini tidak diperbolehkan.

2. Landasan hukum ijarah

Ijarah: Pengertian, Landasan Hukum dan Syaratnya

Ilustrasi Alquran (Unsplash.com/ the dancing rain)

Landasan hukum dari transaksi ijarah sendiri berasal dari Q.S. Al-Qashash [28]: 26 dan 27 yang memiliki arti:

“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.

(27). Berkatalah dia (Syu´aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”.

Selain itu juga Q.S. Ath-Thalaq [65]: 6 yang berbunyi,

“Tempatkan lah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.

Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak) mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya."

Editor’s picks

3. Contoh transaksi ijarah

Salah satu contoh transaksi Ijarah bisa dilihat dalam pinjaman multiguna, dalam perbankan syariah. Contohnya, individu yang menjaminkan sepeda motornya ke bank untuk mendapatkan pinjaman.

Hak guna sepeda motor tersebut berpindah ke bank, namun tidak atas kepemilikannya. Setelah nasabah melunaskan pinjamannya, maka hak guna sepeda motor tersebut kembali ke nasabah.

4. Rukun ijarah

Ijarah: Pengertian, Landasan Hukum dan Syaratnya

Ilustrasi Memberi dan Menerima Uang. (IDN Times/Aditya Pratama)

Adapun rukun-rukun dalam Ijarah yaitu sebagai berikut.

  • Ada orang yang menyewakan suatu barang yaitu Mu’ajjir dan Musta’jir.
  • Ada akad antara penyewa dan yang menyewakan.
  • Ada ijab qabul atau shigat.
  • Ada upah atau ujrah.
  • Ada manfaat baik antara pihak yang menyewakan dan pihak penyewa.

5. Syarat ijarah

Ijarah: Pengertian, Landasan Hukum dan Syaratnya

Ilustrasi transaksi (IDN Times/Aditya Pratama)

Adapun syarat ijarah yaitu sebagai berikut.

  • Kedua pihak yang melakukan transaksi Ijarah sudah dewasa atau baligh dan berakal atau tidak dalam keadaan mabuk.
  • Memiliki kerelaan dari kedua pihak yang melakukan transaksi dan tidak didasarkan suatu paksaan dari pihak mana pun.
  • Barang yang menjadi objek transaksi harus jelas adanya.
  • Barang yang menjadi objek transaksi harus halal sesuai syariat Islam.
  • Barang yang menjadi objek transaksi menjadi hak Mu’jar atas seizin pemiliknya.
  • Manfaat yang didapatkan harus diinformasikan secara terang dan jelas.

6. Jenis ijarah

Ijarah: Pengertian, Landasan Hukum dan Syaratnya

ilustrasi Muslim (pexels.com/mentatdgt)

Terdapat dua jenis ijarah berdasarkan objek yang disewakan, yaitu sebagai berikut:

  • Ijarah Manfaat. Ijarah jenis ini memiliki objek sewa berupa aset yang tidak bergerak seperti rumah, pakaian, perhiasan, kendaraan,dan lain sebagainya.
  • Ijarah Pekerjaan. Ijarah atas pekerjaan mengarah kepada objek sewa yang berbentuk pekerjaan atau jasa yakni seperti membangun bangunan, menjahit baju, mengantar paket, memperbaiki barang, dan lain-lain.

7. Pembatalan ijarah

Ijarah: Pengertian, Landasan Hukum dan Syaratnya

Ilustrasi Memesan Mobil Sewa (unsplash.com/Firmbee.com)

Akad ijarah atau sewa-menyewa dapat berakhir atau dibatalkan apabila terjadi permasalahan-permasalahan berikut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *