7 Istilah Dasar dalam Trading Saham yang Perlu Trader Pemula Ketahui

7 Istilah Dasar dalam Trading Saham yang Perlu Trader Pemula Ketahui

Tidak seperti investasi yang berlangsung selama beberapa tahun hingga berpuluh-puluh tahun, satu posisi trading saham hanya bertahan dalam hitungan bulan hingga di bawah satu menit.

Dari perbedaan mencolok tersebut, trading pun memiliki pendekatan berlainan hingga istilah-istilah di dalamnya begitu melekat dengan trading saham. Lantas, apa saja istilah-istilah tersebut?

1. Analisis Teknikal

Analisis teknikal merupakan teknik pengamatan pergerakan harga saham sesuai riwayatnya. Teknik ini umumnya berfokus menyelidiki harga dan volume jual beli saham. Ini menjadi alat utama trader dalam mengincar saham sebelum proses masuk atau keluar saham terjadi, terlebih karena hasilnya bisa lebih cepat didapatkan daripada analisis fundamental .

2. Manajemen Risiko

Risk management merupakan istilah trading saham yang tidak boleh kamu abaikan. Istilah ini begitu penting karena mengacu pada penanganan trader ketika menghadapi posisi yang merugikan.

Ya, kerugian merupakan momok dalam aktivitas trading. Namun sayangnya, hal ini akan selalu menimpa trader mana pun, bahkan yang sudah profesional.

Faktanya, trader berpengalaman sadar betul bila mereka tidak bisa melawan pergerakan saham yang sewaktu-waktu bisa jatuh. Karena kenyataan itulah, manajemen risiko diperlukan agar kerugian tidak mengikis imbal hasil mereka.

3. Support dan Resistance

Support adalah harga terendah yang pernah dialami oleh suatu saham sebelum akhirnya kembali naik. Sebaliknya, resistance adalah harga tertinggi pada suatu saham sebelum akhirnya jatuh.

Keduanya merupakan faktor esensial dalam analisis teknikal , khususnya dalam menentukan sinyal beli dan jual. Hal ini pun sangat membantu dalam manajemen risiko menggunakan order stop loss.

4. Stop-Loss

Stop-loss merupakan order atau perintah jual otomatis yang diberikan kepada broker. Order ini akan aktif begitu saham yang trader punya jatuh ke titik harga yang sudah ditentukan sebelumnya. Harga di bawah support biasanya dijadikan acuan stop-loss.

Order ini berguna untuk menghindari kerugian lebih jauh maupun menepis psikologi trader yang rentan mengharapkan harga akan kembali naik.

Stop-loss sering diaplikasikan bersama take-profit yang merupakan kebalikannya. Order ini dipasang trader untuk menjual saham yang sedang naik dengan maksud menghindari kemungkinan baru menjualnya ketika harganya merosot. Harga mendekati resistance biasanya menjadi acuan dalam take-profit.

5. Moving Average

Bagi trader , moving average (MA) merupakan salah satu indikator analisis teknikal yang paling sering digunakan karena cirinya yang sederhana dan punya beragam modifikasi. Karakteristik ini pula yang membuatnya menjadi acuan dasar trader dalam menemukan saham yang sedang bagus ataupun buruk.

MA adalah rata-rata harga saham dalam rentang waktu tertentu. Indikator ini dapat memberitahukan apakah saham mengalami tren naik atau justru tren turun.

MA dalam rentang waktu pendek memperlihatkan pergerakan harga yang lebih detail daripada rentang waktu panjang.

Rentang waktu yang digunakan di sini disesuaikan berdasarkan masing-masing trader. Jika scalper memakai MA dengan chart 5 menit, trader harian dapat menggunakan MA 5 menit sampai 15 menit dan swing trader dengan MA 4 hari hingga 18 hari tergantung lamanya trading.

Masih banyak indiktor jual beli selain MA, seperti relative strength index (RSI).

6. Pompom

Pompom adalah istilah trading saham yang belakangan ini marak karena konotasi negatifnya. Istilah ini merujuk pada orang yang merekomendasikan saham dengan maksud memompa ( pump ) harganya naik.

Pelaku pompom bisa berasal dari bandar saham atau influencer hingga lingkup kecil seperti grup medsos. Sayangnya, rekomendasi ini tidak bisa kamu jadikan pegangan karena tidak didasarkan pengamatan yang mendalam. Sekalipun berdasarkan analisis, jangan berharap kamu memperoleh hasil positif seperti halnya pelaku pompom.

Berhati-hatilah karena pompom bisa berujung pada tindak pidana. Apalagi kalau tujuannya adalah untuk langsung menjual ( dump ) saham yang dipromosikan itu setelah harganya berhasil melejit.

7. ARA dan ARB

ARA ( auto-reject atas) dan ARB ( auto-reject bawah) merupakan sistem penolakan otomatis harga saham yang telah mencapai batasnya sehingga tidak bisa lagi menembus batas tersebut.

Sistem ini dikeluarkan oleh Jakarta Automated Trading System (JATS) NEXT-G untuk melindungi kelancaran transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam satu hari perdagangan.

ARA sendiri adalah persentase batasan maksimal dari kenaikan harga saham (order beli) dalam satu hari. Sedangkan, ARB adalah persentase batasan harga maksimal dari penurunan harga saham (order jual) dalam satu hari.

Persentase auto-reject digolongkan dalam kategori berdasarkan rentang harganya sesuai keterangan berikut. Perhatikan bila ARA mengerucut ketika harga semakin tinggi.

  • Rentang harga Rp50-Rp200 per saham memicu ARA ketika harga belinya lebih dari 35%.
  • Rentang harga Rp200-Rp5.000 per saham memicu ARA ketika harga belinya lebih dari 25%.
  • Rentang harga di atas Rp5.000 per saham memicu ARA ketika harga belinya lebih dari 20%.
  • ARB masing-masing kategori akan terpicu ketika order jual lebih dari 7%.

Sebagai gambaran, saham X pada perdagangan kemarin ditutup di harga Rp4.000 per saham. Jadi, ARA saham X adalah 25% sehingga batas kenaikannya pada hari ini adalah Rp5.000 (4000+1000 dari 25%).

Mengetahui istilah trading saham dasar akan membantumu ketika memulai trading di bursa efek. Selain itu, pemahaman akan istilah ini juga berguna bagi investor karena mereka bisa lebih memahami hal-hal yang mempengaruhi sentimen bursa.

Yuk, belajar investasi dan trading saham bagi pemula di YouTube RHB Sekuritas. Manfaatkan juga aplikasi RHBTRADESMARTID yang dilengkapi berbagai fitur untuk memudahkan transaksi saham di mana saja dan kapan saja. Subscribe channel-nya dan unduh aplikasinya dengan menekan tombol di bawah ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *